ZoyaPatel

Fresh Food MBG Pancoran, Gizi Anak dan Ekonomi Petani Sama-sama Tumbuh

Mumbai
Menu tambahan buah dan susu fresh food oleh SPPG pancoran. Jum'at 8/5/2026.

Bondowoso, (JaringanKita. Id) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Pancoran, Kabupaten Bondowoso, kembali menghadirkan suasana penuh semangat di berbagai sekolah pada Jumat (8/5/2026). 

Aroma gurih ayam goreng bawang putih yang baru matang berpadu dengan segarnya buah dan susu fresh food membuat ribuan penerima manfaat menikmati santapan bergizi dengan antusias.

 Di balik menu sederhana itu, tersimpan harapan besar tentang generasi yang lebih sehat sekaligus denyut ekonomi petani lokal yang mulai kembali hidup.

Pada hari itu, dapur MBG menghadirkan menu ayam goreng bawang putih yang dipadukan dengan tahu bacem, tumis wortel kacang panjang, serta buah melon.

Tak hanya itu, program yang dikelola Yayasan Rahayu Wangi Pasundan tersebut juga menambahkan menu fresh food berupa buah dan susu untuk menunjang kebutuhan gizi siswa maupun kelompok B3, yakni balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Untuk kategori menu kecil, penerima mendapatkan apel fuji dan susu fresh food. Sedangkan menu besar berisi jeruk wogan, anggur, serta susu fresh food.

Asisten Lapangan SPPG Pancoran, Faqih Firdaus, mengatakan tambahan menu tersebut diberikan khusus bagi sekolah yang memiliki jadwal belajar hingga enam hari dalam sepekan, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi kelompok B3.

“Menu kami susun semaksimal mungkin agar tetap memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat. Dengan adanya tambahan fresh food ini, kami berharap asupan nutrisi menjadi lebih lengkap,” ujarnya.

Menurut Faqih, setiap hari SPPG Pancoran mendistribusikan sebanyak 2.503 paket makanan bergizi yang menyasar 21 lembaga pendidikan mulai tingkat PAUD hingga SMA.

Dari jumlah tersebut, penerima manfaat terdiri atas 1.696 siswa dan 251 tenaga pendidik. Selain itu, program MBG juga menjangkau 358 penerima dari kelompok B3 yang meliputi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

“Kami melayani 2.503 paket dalam sehari yang mencakup siswa, guru, hingga kelompok B3. Semua tersalurkan sesuai sasaran,” jelasnya.

Ia menegaskan, pihaknya terus menjaga kualitas makanan serta memastikan distribusi dilakukan tepat waktu agar seluruh penerima mendapatkan makanan dalam kondisi baik.

“Kami menjaga kualitas dan memastikan distribusi tepat waktu, termasuk menu tambahan berupa buah dan susu,” tambahnya.

Di balik kelancaran distribusi menu MBG, program tersebut ternyata juga membawa dampak besar terhadap roda perekonomian lokal, khususnya bagi petani dan distributor sayur di Bondowoso.

Salah satunya dirasakan M. Febri, distributor sayur yang menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG SPPG Pancoran. Ia mengaku permintaan sayuran meningkat tajam sejak program MBG berjalan secara rutin.

Berbagai jenis sayur seperti sawi mie, sawi pakcoy, buncis hingga edamame kini menjadi komoditas yang paling sering dikirim untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG setiap hari.

“Sebelum ada MBG, permintaan pasar tidak menentu. Sekarang penjualan meningkat dan hasil panen petani lebih cepat terserap,” kata Febri.

Menurutnya, dampak program MBG juga terasa pada harga komoditas sayur yang mulai membaik. Harga buncis yang sebelumnya sempat jatuh di angka Rp1.500 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp10 ribu per kilogram.

Hal serupa terjadi pada sawi pakcoy yang sebelumnya hanya berada di kisaran Rp450 ribu per kuintal, kini meningkat hingga mencapai Rp900 ribu per kuintal.

“Kalau dihitung, peningkatan nilai ekonominya bisa sampai dua kali lipat. Dulu satu keresek hanya sekitar Rp20 ribu, sekarang bisa mencapai Rp100 ribu,” ungkapnya.

Program MBG kini bukan sekadar menghadirkan makanan bergizi di atas meja makan para siswa. Lebih dari itu, program ini perlahan menjadi penggerak harapan baru bagi petani, distributor, hingga pelaku usaha lokal di Bondowoso.

Dari dapur MBG, rantai ekonomi desa ikut bergerak, hasil panen lebih dihargai, dan senyum para petani mulai kembali terlihat karena ada kepastian pasar yang terus hidup setiap harinya.
Ahmedabad