ZoyaPatel

Konferensi 2026, Figur KH Mas’ud Ali Dinilai Layak Nahkodai PCNU Bondowoso Lima Tahun ke Depan

Mumbai

 





Dr. KH. Mas’ud Ali disebut menjadi sosok yang paling banyak mendapat perhatian publik



BONDOWOSO - Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei 2026 di Pondok Pesantren Nurul Ulum Cindogo, Tapen, dipastikan menjadi momentum penting bagi arah organisasi NU di Bondowoso lima tahun ke depan.

Forum tertinggi tingkat cabang itu tak sekadar agenda rutin, tetapi menjadi arena strategis menentukan figur pemimpin baru PCNU Bondowoso.

Situasi Konfercab tahun ini juga berlangsung cukup dinamis. Persetujuan pelaksanaan dari PBNU baru diterbitkan pada 14 Mei 2026, membuat seluruh tahapan konferensi berjalan dalam waktu relatif singkat dan padat.

Meski demikian, dinamika tersebut justru memunculkan perhatian besar dari warga Nahdliyin.

Sejumlah nama mulai diperbincangkan sebagai calon kuat Ketua PCNU Bondowoso yang dinilai memiliki kapasitas, pengalaman organisasi, hingga legitimasi moral di tengah masyarakat.

Dari beberapa figur yang muncul, nama Dr. KH. Mas’ud Ali, M.Pd.I menjadi sosok yang paling banyak menyita perhatian publik. Dukungan dan pembicaraan mengenai dirinya terus menguat di kalangan warga NU Bondowoso.

Menguatnya nama KH. Mas’ud Ali bukan tanpa alasan. Rekam jejak panjang dalam pengabdian di tubuh Nahdlatul Ulama, pengalaman organisasi yang matang, hingga kapasitas keilmuan yang dimilikinya membuat banyak pihak menilai dirinya layak memimpin PCNU Bondowoso.

KH. Mas’ud Ali diketahui merupakan santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Ia dididik langsung oleh almaghfurlah KH. As’ad Syamsul Arifin bersama para masyayikh Sukorejo lainnya.

Lingkungan pesantren Sukorejo yang dikenal sebagai pusat kaderisasi NU dinilai membentuk karakter KH. Mas’ud Ali menjadi pribadi yang kuat dalam prinsip, santun dalam sikap, dan teguh menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Sejak masih nyantri hingga menempuh pendidikan tinggi, KH. Mas’ud Ali dikenal aktif di berbagai organisasi kepesantrenan dan kemahasiswaan. Ia juga tercatat aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Pengalaman organisasi tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kemampuan kepemimpinan, komunikasi sosial, hingga kepekaan terhadap persoalan umat dan kebangsaan.

Pengabdian KH. Mas’ud Ali di tubuh Nahdlatul Ulama juga berlangsung panjang dan konsisten. Setelah kembali ke tengah masyarakat, dirinya aktif mengabdi melalui berbagai struktur organisasi NU di Bondowoso.

Ia pernah menjadi pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Bondowoso selama beberapa periode. Setelah itu, KH. Mas’ud Ali dipercaya menjabat Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Bondowoso.

Karier organisasinya terus berlanjut hingga kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rois Syuriah PCNU Bondowoso. Posisi itu memperlihatkan bahwa dirinya memahami struktur dan kultur organisasi NU dari berbagai tingkatan.

Jejak organisasi yang lengkap, mulai dari badan otonom hingga jajaran syuriah, membuat KH. Mas’ud Ali dinilai bukan figur instan di tubuh NU. Ia tumbuh melalui proses panjang pengabdian dan kaderisasi.

Selain aktif di lingkungan NU, KH. Mas’ud Ali juga dipercaya memimpin Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bondowoso. Amanah tersebut menjadi bukti kemampuan dirinya dalam menjaga komunikasi lintas agama dan merawat harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk.

Di tengah aktivitas organisasi yang padat, KH. Mas’ud Ali tetap aktif berdakwah di berbagai masjid, majelis taklim, hingga pelosok desa di Bondowoso. Dakwahnya bahkan disebut menjangkau hingga Malaysia.

Ceramah KH. Mas’ud Ali dikenal sejuk, komunikatif, argumentatif, dan mudah diterima berbagai kalangan. Gaya dakwah yang membumi membuat dirinya dihormati tidak hanya oleh kalangan pesantren, tetapi juga akademisi dan generasi muda Nahdliyin.

Dalam kesehariannya, KH. Mas’ud Ali juga mengasuh Pondok Pesantren Riyadhus Sholihin Kota Kulon Bondowoso. Perannya sebagai pengasuh pesantren memperkuat citra dirinya sebagai tokoh yang dekat dengan tradisi keilmuan pesantren.

Di bidang akademik, KH. Mas’ud Ali aktif mengajar sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Perpaduan kapasitas ulama, akademisi, dan aktivis sosial membuat dirinya dinilai sebagai figur lengkap untuk memimpin organisasi sebesar PCNU Bondowoso.

Sejumlah kalangan menilai PCNU Bondowoso membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami tradisi ke-NU-an, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.

Dengan latar belakang pesantren yang kuat, pengalaman organisasi panjang, jaringan sosial luas, dan kapasitas akademik yang mumpuni, nama Dr. KH. Mas’ud Ali, M.Pd.I dinilai memiliki modal besar untuk membawa PCNU Bondowoso lebih progresif, berdaya, dan tetap berpijak pada tradisi khidmah Nahdlatul Ulama.





#PCNUBondowoso, #KonfercabNU, #NahdlatulUlama, #KHMasudAli, #NUBondowoso, #Konfercab2026, #BeritaBondowoso, #TokohNU, #Nahdliyin, #Bondowoso

Ahmedabad