ZoyaPatel

SPPG Badean 2 Bondowoso Andalkan Tim Tata Boga dan Chef Berpengalaman untuk Jaga Kualitas Menu MBG

Mumbai
Foto: Tim tata boga dan chef berpengalaman di SPPG Bondowoso Badean 2 yang senantiasa menjaga kualitas menu MBG. (Dok. SPPG Bondowoso Badean 2)


Bondowoso, (JaringanKita.Id) — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badean 2 Bondowoso mengandalkan tim pengolahan makanan yang memiliki latar belakang pendidikan tata boga hingga pengalaman kerja di bidang kuliner untuk menjaga kualitas menu makanan bergizi bagi para siswa.

Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, mengatakan sebagian besar tim pengolahan memang berasal dari dunia tata boga dan kuliner profesional.

“Empat orang tim pengolahan berasal dari SMK Tata Boga. Selain itu ada yang pernah bekerja di cafe, catering, bahkan memiliki usaha makanan sendiri,” kata Yulia.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi faktor penting dalam mendukung proses penyajian makanan di SPPG. Sebab, proses pengolahan makanan tidak hanya mengandalkan teori gizi, tetapi juga pengalaman memasak dalam skala besar.

“Sangat penting karena mereka sudah punya pengalaman. Jadi diskusi antara ilmu yang dimiliki ahli gizi dan pengalaman yang dimiliki chef kami bisa diambil jalan tengahnya. Menu yang kami sajikan tidak hanya berdasarkan ilmu atau pengalaman saja, tetapi keduanya berjalan bersamaan,” jelasnya.

Dalam proses memasak, tim pengolahan membagi pekerjaan sesuai jenis makanan agar pengerjaan lebih efektif. Mulai dari pengolahan sumber karbohidrat, protein hewani, protein nabati hingga sayuran dilakukan secara bersamaan oleh tim berbeda.

Yulia menjelaskan, standar keamanan pangan juga diterapkan secara ketat selama proses memasak berlangsung. Seluruh petugas diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja.

“Setiap masak per wajan dicek suhunya. Makanan harus matang sesuai suhu yang ditetapkan ahli gizi supaya matang sempurna. Setiap kali masak juga diuji coba oleh ahli gizi untuk memastikan rasa dan sebagian disimpan untuk sampel,” ujarnya.

Selain itu, tim pengolahan juga telah mendapatkan pelatihan penjamah makanan dari Dinas Kesehatan. Pelatihan tersebut meliputi tata cara memasak yang baik hingga menjaga suhu makanan agar tidak mudah basi.

Meski demikian, proses memasak dalam jumlah besar tetap memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya memastikan makanan matang sempurna dan tidak mudah rusak.

“Kami takut olahan hancur, tumisan kalau benar-benar tidak matang bisa gampang basi. Begitu juga ayam, jangan sampai ada yang kurang matang,” ungkap Yulia.

Untuk menjaga kualitas rasa, pihaknya memilih memasak makanan secara bertahap dalam jumlah kecil di setiap wajan, meski harus dilakukan berulang kali.

“Kami memasaknya tidak langsung dalam porsi banyak. Jadi dimasak sedikit-sedikit per wajannya supaya rasanya tetap enak,” tambahnya.

Yulia berharap kekompakan tim pengolahan tetap terjaga sehingga kualitas makanan yang diberikan kepada para siswa tetap aman, bergizi, dan memiliki cita rasa yang baik.

“Kami membuat makanan tidak asal membuat, tetapi menu yang disajikan dibuat oleh ahli gizi sesuai kebutuhan penerima manfaat. Cita rasanya juga dibuat langsung oleh chef berpengalaman sehingga tetap enak meski tanpa menggunakan MSG,” pungkasnya. (dw)
Ahmedabad