ZoyaPatel

Perayaan HUT RI di Makam Ki Ronggo, PDIP Bondowoso Angkat Sejarah dan Masa Depan Daerah

Mumbai
Foto: Ketua DPC PDI Perjuangan Bondowoso, Sinung Sudrajad mencium tangan Supriyadi, Ketua Ikatan Keluarga Besar Ki Ronggo, Senin (17/8/2026). (Humas DPC PDI Perjuangan Bondowoso)



TEGALAMPEL, (JaringanKita.Id) — DPC PDI Perjuangan Bondowoso memilih kompleks pemakaman Ki Ronggo di Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel, sebagai lokasi tasyakuran memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda peringatan kemerdekaan. PDIP juga mengangkat kembali sejarah Ki Ronggo sebagai tokoh penting dalam perjalanan awal Kabupaten Bondowoso, sekaligus mendorong agar peringatan Hari Jadi Bondowoso (Harjabo) ke-207 menjadi momentum untuk melihat masa depan daerah.

Tasyakuran berlangsung khidmat. Pengurus dan kader PDIP mengikuti doa bersama, pembacaan Yasin, tahlil, hingga nyekar ke makam Ki Ronggo.

Ketua DPC PDIP Bondowoso Sinung Sudrajad mengatakan, pemilihan makam Ki Ronggo sebagai lokasi kegiatan merupakan bentuk penghormatan terhadap tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Bondowoso.

"Motivasi kami menggelar HUT RI di makam Ki Ronggo atau Raden Bagus Asra ini karena beliau adalah pelaku sejarah," kata Sinung.

Menurutnya, perjuangan para pendahulu tidak cukup hanya dikenang. Semangat tersebut harus diteruskan dengan memberikan kontribusi positif bagi daerah.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif," ujarnya.

Sinung sendiri masih memiliki garis keturunan Ki Ronggo. Raden Bagus Asra atau Ki Ronggo diketahui dilantik sebagai penguasa wilayah pertama Bondowoso pada 17 Agustus 1819, atau 126 tahun sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Kesamaan tanggal tersebut juga menjadi bagian dari sejarah yang terus diwariskan keluarga Ki Ronggo.

Supriyadi, Ketua Ikatan Keluarga Besar Ki Ronggo sekaligus keturunan kelima Raden Bagus Asra, mengatakan sebelum dilantik sebagai penguasa wilayah, Ki Ronggo menjalani tirakat selama 41 hari.

Tirakat tersebut, menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, dilakukan di kawasan yang kini menjadi kompleks pemakaman Ki Ronggo.

"Menurut cerita keluarga, sebelum diangkat menjadi penguasa wilayah, beliau tirakat dan puasa selama 41 hari di sini. Tempat tirakatnya dulu ada di atas. Bahkan, bantalnya menggunakan batu," kata Supriyadi.

Dari tirakat tersebut, Ki Ronggo disebut mendapat petunjuk yang kemudian dikaitkan dengan angka 17. Angka itu dikaitkan dengan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam serta 17 Ramadan yang diyakini sebagai waktu turunnya Al-Qur'an.

"Setelah berpuasa 41 hari, beliau mendapat petunjuk. Angka 17 itu diambil dari ibadah orang Islam sehari semalam yang berjumlah 17 rakaat dan turunnya Al-Qur'an pada 17 Ramadan," ujarnya.

Supriyadi menegaskan, kesamaan tanggal pelantikan Ki Ronggo dengan Hari Kemerdekaan RI bukan berarti sejarah kemerdekaan Indonesia meniru sejarah Bondowoso.

"Saya bukan mengatakan Bung Karno menjiplak, tidak. Mungkin Bung Karno juga ahli tirakat dan mendapat petunjuk. Jadi mungkin memang ada persamaan," tuturnya.

Dorong Pemkab Maksimalkan Potensi Bondowoso

Bagi PDIP, momentum Harjabo ke-207 juga menjadi kesempatan untuk mendorong pemerintah daerah melihat potensi Bondowoso sebagai modal pembangunan.

Sinung mengatakan berbagai potensi yang dimiliki Bondowoso seharusnya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Harjabo yang ke-207 ini mari kita jadikan sebagai batu loncatan untuk lebih bersinergi memajukan Kabupaten Bondowoso. Mengingat potensi-potensi yang kita miliki linier dengan tingkat kemajuan dan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Ia berharap Pemkab Bondowoso dapat membangun sinergi yang lebih kuat dengan berbagai elemen masyarakat serta mengoptimalkan potensi daerah untuk kepentingan masyarakat.

"Harapannya Pemkab Bondowoso bisa lebih bersinergi, bisa lebih memaksimalkan potensi yang dimiliki untuk kesejahteraan rakyat," pungkasnya.

Sementara itu, Supriyadi mengatakan sejarah Ki Ronggo dan perjalanan awal Bondowoso perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah daerah penting agar masyarakat tidak kehilangan hubungan dengan akar sejarahnya.

Selain kisah pelantikan Ki Ronggo pada 17 Agustus 1819, keluarga juga memiliki cerita mengenai perjalanan Raden Bagus Asra ketika mendapat tugas dari Bupati Besuki Raden Sura Adi Kusumo untuk membuka wilayah baru.

Cerita turun-temurun tersebut menjadi bagian dari sejarah lisan yang hingga kini masih dijaga keluarga Ki Ronggo dan masyarakat Bondowoso. (dw)
Ahmedabad