ZoyaPatel

Meniru Leluhur di Tengah Melonjaknya Harga Plastik, Sinung Sudrajad Ajak Masyarakat Manfaatkan Dedaunan

Mumbai
Foto: Ilustrasi Sinung Sudrajad ajak warga manfaatkan dedaunan di tengah melonjaknya harga plastik. (Dibuat oleh AI)



Bondowoso, (JaringanKita.Id) – Harga plastik di Indonesia melonjak 40 hingga 100 persen akibat konflik geopolitik AS-Israel melawan Iran serta penutupan Selat Hormuz yang mengganggu pasokan minyak bumi global. Kondisi ini mendorong Wakil Ketua DPRD Bondowoso sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan, Sinung Sudrajad, untuk mengajak masyarakat meniru kearifan leluhur: kembali menggunakan dedaunan sebagai kemasan.

Menurut Sinung, krisis ini justru merupakan momentum tepat untuk mengurangi ketergantungan pada plastik yang selama ini menjadi musuh utama kelestarian alam.

"Sejak awal, musuh besar kelestarian alam adalah sampah plastik. Berbagai komunitas sudah berinovasi mengubah limbah plastik menjadi furnitur, paving block, hingga bahan bakar. Namun, kenaikan harga ini harus semakin mempertegas sikap kita untuk benar-benar meminimalisir penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari," tegas Sinung, Senin (6/4/2026).

Sinung mengajak masyarakat Bondowoso meneladani leluhur yang memanfaatkan daun jati, daun pisang, dan berbagai dedaunan lain sebagai kemasan alami. Menurutnya, ketersediaan bahan-bahan tersebut di Bondowoso sangat melimpah.

"Dulu leluhur kita memanfaatkan daun jati, daun pisang, dan lain sebagainya. Kenapa kita tidak kembali ke alam? Di Bondowoso banyak pohon jati dan daun pisang yang sangat cukup. Tinggal bagaimana kita berkreasi membuatnya sederhana," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa secara kodrati, manusia akan berpikir lebih cerdas ketika menghadapi tantangan. Pemerintah daerah diminta menjadi contoh dengan mulai mengurangi penggunaan plastik, misalnya menggunakan tas kertas atau membawa kantong belanja dari rumah. Para pedagang pasar pun didorong untuk menghitung ulang efisiensi penggunaan bungkus daun dibandingkan plastik yang harganya terus melambung.

Dorongan untuk beralih ke bahan alami ini semakin mendesak mengingat kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bondowoso yang sudah overload dan mendapat "kartu merah" dari Kementerian Lingkungan Hidup karena tidak boleh dioperasikan lagi dengan sistem open dumping.

"TPA kita sudah dapat kartu merah dari Kementerian Lingkungan Hidup. Tidak boleh dioperasikan lagi dengan sistem open dumping. Ketika penggunaan bahan plastik berkurang di masyarakat, secara langsung kita mendukung pengolahan limbah organik yang mudah terurai kembali ke alam," jelas Sinung.

Ia berharap Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Daerah (Bapperida) Bondowoso merespon cepat dengan merangkul akademisi untuk meneliti serta mengkaji efektivitas penggunaan bahan alam sebagai pengganti plastik, kemudian menggulirkannya ke masyarakat.

"Kita harus memulai dari diri sendiri. Jangan sampai menjadi bagian dari pendukung perusakan alam. Ini saatnya berkomitmen benar-benar mengurangi plastik," pungkasnya. (*)
Ahmedabad