ZoyaPatel

Arti Setiap Porsi MBG Dapur Kademangan 1 di Tangan Chef Halimatus Sa’diyah

Mumbai
Foto: Chef Halimatus Sa'diyah saat memasak di dapur SPPG Kademangan 1

Bondowoso/JaringanKita. Aroma bumbu yang mengepul dari dapur MBG Kademangan 1 bukan sekadar pertanda makanan siap dibagikan. Di balik setiap porsi yang tersaji untuk ribuan pelajar, ada tangan-tangan yang bekerja sejak tengah malam demi memastikan anak-anak mendapatkan makanan yang enak sekaligus bergizi.
Salah satu sosok di balik dapur itu adalah Halimatus Sa’diyah (35), warga Kelurahan Blindungan, Bondowoso.

Bagi Halimatus, memasak di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hanya soal pekerjaan harian. Ia memandang setiap menu yang diolah memiliki makna lebih besar, yakni menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah sebagai generasi penerus bangsa.

Sebelum bergabung di dapur MBG Kademangan 1, Halimatus diketahui lebih dulu menjalani usaha kuliner secara mandiri. Ia membuka warung lalapan di Bondowoso dan cukup lama berkecimpung di dunia masak-memasak. Pengalaman itu membuatnya tidak asing dengan ritme kerja dapur yang menuntut kecepatan sekaligus ketelitian.

Kemampuan memasaknya juga diperkuat dengan kepemilikan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Bekal pengalaman dan sertifikasi itu membuatnya percaya diri saat memutuskan bergabung dalam program MBG.

Menurut Halimatus, ada kepuasan tersendiri ketika melihat makanan yang dimasaknya disukai anak-anak sekolah. Ia mengaku beberapa menu tertentu selalu mendapat respons paling antusias dari para siswa.

" Kalau anak-anak itu paling suka daging sapi, seperti rendang kemarin itu habis. Kadang ayam juga suka, terutama ayam garam asam," ujarnya, Selasa (12/5/2026). 

Tidak hanya menu berbahan daging sapi, beberapa sajian lain seperti ayam hingga somai juga menjadi favorit para pelajar. Hal itu, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri bagi tim dapur untuk terus menjaga cita rasa tanpa mengabaikan nilai gizi dalam setiap menu yang disajikan.

Rutinitas kerja di dapur MBG pun tidak ringan. Halimatus dan tim harus mulai memasak sejak tengah malam agar makanan dapat selesai tepat waktu sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah. 

Meski demikian, rasa lelah yang muncul seolah terbayar ketika makanan yang mereka sajikan diterima dengan baik oleh anak-anak dan dimakan habis. 

" Merasa bahagia, meskipun kita capek dan masaknya dari tengah malam sampai pulang siang. Tapi kita senang karena apa yang kita masak disukai anak-anak," katanya.

Di tengah padatnya aktivitas dapur, Halimatus mengaku tidak pernah menganggap pekerjaannya sebagai beban berat. Pengalaman yang dimiliki membuatnya cukup terbiasa menghadapi tekanan kerja di dapur besar. Apalagi, seluruh tim disebut selalu bekerja kompak sehingga proses memasak dapat berjalan lancar.

Menurut dia, tantangan terbesar justru bukan pada teknis memasak, melainkan bagaimana memastikan makanan yang dibuat tetap lezat dan sesuai selera anak-anak tanpa mengurangi kandungan gizi yang dibutuhkan.

" Sebagai chef, kita harus bagaimana caranya masakan itu disukai anak-anak, enak dan tentunya bergizi," ucapnya.

Keputusan Halimatus bergabung di MBG juga didasari keinginan untuk kembali menekuni dunia memasak dengan tujuan yang lebih luas. Ia ingin kontribusinya tidak berhenti sebagai usaha pribadi, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat, terutama anak-anak sekolah.

" Karena memang pengennya masak lagi dan memberikan kontribusi kepada negara dengan memberikan gizi terbaik kepada anak-anak penerus bangsa," katanya.

Bagi Halimatus, setiap porsi makanan yang keluar dari dapur MBG Kademangan 1 bukan sekadar nasi dan lauk yang dibagikan kepada siswa. Di dalamnya ada tanggung jawab, kerja keras, dan harapan agar anak-anak dapat tumbuh sehat dengan asupan gizi yang layak.(*)
Ahmedabad