BPBD Bondowoso Beralih ke Solusi Permanen Atasi Kekeringan
Mumbai
Ahmedabad
Bondowoso, (Jaringan Kita.Id) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso mulai mengubah pola penanganan bencana kekeringan dari yang semula berfokus pada langkah darurat menjadi solusi jangka panjang. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan dropping air bersih yang selama ini rutin dilakukan setiap musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, mengatakan dropping air bersih tetap akan dilaksanakan selama puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Namun, bersamaan dengan itu pemerintah daerah mulai menyiapkan penanganan permanen sesuai arahan Bupati Bondowoso.
"Antara Agustus hingga September kami tetap akan melaksanakan dropping air bersih. Namun bersamaan dengan itu, kami juga mempersiapkan penanganan permanen. Ini menjadi arahan Bapak Bupati, karena setiap tahun kami selalu melakukan penanganan darurat," katanya
.
Sebagai dasar penyusunan program, BPBD telah memetakan wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih. Dari hasil pendataan, terdapat sembilan kecamatan, 12 desa, dan 20 dusun yang masuk kategori rawan kekeringan. Salah satu titik yang menjadi perhatian utama adalah Dusun Sumber Biru.
Menurut Kristianto, penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Karena itu, BPBD memperkuat kolaborasi melalui pendekatan pentahelix dengan melibatkan dunia usaha, akademisi, media, lembaga sosial, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut mulai diwujudkan melalui penyaluran bantuan air bersih yang dijadwalkan kembali berlangsung mulai pekan depan. Bantuan berasal dari sejumlah mitra melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan lembaga sosial.
Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) akan menyalurkan empat rit atau sekitar 20 ribu liter air bersih untuk dua desa. Bank Jatim juga mengalokasikan empat rit atau 20 ribu liter bagi dua desa lainnya. Sementara Baznas Kabupaten Bondowoso akan mendistribusikan 14 rit atau sekitar 70 ribu liter air bersih ke tujuh desa terdampak.
"Penanganan bencana tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Dengan kolaborasi seluruh unsur pentahelix, kami berharap kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau, sekaligus mendorong terwujudnya solusi permanen bagi wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan," ujar Kristianto.
BPBD berharap sinergi berbagai pihak tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dalam jangka pendek, tetapi juga menjadi langkah awal menghadirkan infrastruktur penyediaan air bersih yang lebih berkelanjutan bagi wilayah-wilayah yang setiap tahun terdampak kekeringan. (Rif)
Tags:
Daerah