ZoyaPatel

SPPG Bondowoso Badean 2 Andalkan Satpam Bersertifikasi untuk Jaga Keamanan 24 Jam

Mumbai
Foto: Aditya Aidhil Rifki (paling kiri) adalah satpam bersertifikasi yang bekerja di SPPG Bondowoso Badean 2. (Dok. SPPG Bondowoso Badean 2)



Bondowoso (JaringanKita.Id) – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso Badean 2 mengandalkan petugas keamanan yang telah mengantongi sertifikasi resmi untuk menjaga keamanan fasilitas selama 24 jam, termasuk pada hari libur dan tanggal merah.

Salah satu satpam SPPG Bondowoso Badean 2, Aditya Aidhil Rifki, mengatakan sertifikasi menjadi bekal penting agar petugas keamanan tidak hanya berjaga, tetapi mampu menjalankan tugas secara profesional sesuai standar operasional prosedur (SOP).

"Satpam bersertifikasi adalah satpam yang telah mengikuti pelatihan Gada Pratama. Kami dibekali pengetahuan tentang SOP, hukum, bela diri, hingga penanganan keadaan darurat sehingga bekerja secara profesional dan legal," ujarnya.

Menurut Aditya, selama mengikuti pelatihan Gada Pratama, peserta mendapatkan berbagai materi mulai penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), peraturan baris-berbaris (PBB), bela diri Polri, pengetahuan keamanan, komunikasi, penanganan konflik, hingga pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

Bekal tersebut membuat satpam lebih memahami tugas pokok sebagai petugas keamanan, yakni melakukan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli di lingkungan kerja.

Di lingkungan SPPG Bondowoso Badean 2, sistem pengamanan diterapkan selama 24 jam dengan pembagian tiga shift masing-masing delapan jam. Petugas melakukan patroli rutin setiap satu hingga dua jam, memeriksa panel listrik dan instalasi gas, menyisir sudut-sudut yang minim penerangan menggunakan senter, serta mengawasi akses keluar masuk orang maupun kendaraan.

Selain itu, laporan kondisi keamanan juga dikirimkan secara berkala kepada Kepala SPPG setiap tiga jam melalui aplikasi WhatsApp.

Aditya menjelaskan, kewaspadaan justru ditingkatkan saat hari libur karena aktivitas di lingkungan SPPG lebih sepi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko terjadinya gangguan keamanan, mulai dari kebocoran gas, kebakaran, pencurian, hingga kemungkinan sabotase.

Apabila terjadi keadaan darurat, petugas keamanan akan segera melapor kepada Kepala SPPG untuk diteruskan kepada pihak kepolisian.

Meski harus bertugas saat masyarakat menikmati waktu bersama keluarga, Aditya mengaku tetap menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.

"Kadang kangen berkumpul dengan keluarga, tetapi kami bangga karena profesi ini selalu dibutuhkan. Kelalaian sedikit saja bisa menimbulkan kerugian, sehingga kami harus tetap semangat menjalankan tugas," katanya.

Ia berharap ke depan seluruh petugas keamanan di Indonesia dapat memiliki sertifikasi resmi sehingga kompetensi dan profesionalisme satpam semakin meningkat serta mendapat penghargaan yang lebih baik dari masyarakat.

"Jangan malu menjadi satpam profesional karena ini juga pekerjaan yang mulia. Sebelum polisi atau pemadam kebakaran datang, satpam adalah garda terdepan yang menghadapi berbagai risiko di lapangan," pungkasnya. (dw)
Ahmedabad