SPPG Kademangan 1 Dorong Peningkatan Harga Telur, Peternak Lokal Rasakan Dampak Positif bagi Ekonomi Desa
Mumbai
Foto: Kondisi kandang ayam petelur milik Samsul Arifin di Desa Pejagan, Kecamatan Jambesari Darus Sholah
Ahmedabad
Bondowoso/JaringanKita. Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kademangan 1 dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal. Salah satunya dirasakan oleh Samsul Arifin, peternak ayam petelur asal Desa Pejagan, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, yang menjadi pemasok tetap telur untuk kebutuhan dapur SPPG Kademangan 1.
Kerja sama antara peternak lokal dan SPPG Kademangan 1 telah berlangsung sejak awal operasional dapur. Melalui kemitraan tersebut, kebutuhan telur untuk menu MBG dipenuhi dari hasil peternakan warga Bondowoso, sehingga manfaat program tidak hanya dirasakan penerima manfaat tetapi juga pelaku usaha di daerah.
Menurut Samsul, keberadaan SPPG Kademangan 1 membantu meningkatkan penjualan telur yang selama ini dihasilkan peternak. Selain itu, harga telur di tingkat peternak juga mengalami perbaikan dibandingkan sebelum program berjalan.
“Alhamdulillah dari awal selalu beli ke saya untuk telur. Semenjak ada MBG, penjualan telur lebih terbantu dan harga juga semakin membaik dibandingkan sebelumnya,” kata Samsul, kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan, sebelum kebutuhan telur dari program MBG meningkat, harga telur di pasaran berada pada kisaran Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Namun setelah adanya permintaan rutin dari dapur MBG, harga telur berangsur membaik hingga mencapai Rp27.000 sampai Rp28.000 per kilogram.
Kondisi tersebut dinilai menjadi kabar baik bagi peternak ayam petelur yang selama ini menghadapi naik turunnya harga pasar. Adanya permintaan yang stabil membuat peternak memiliki kepastian penyerapan hasil produksi.
“Untuk telur sebelum ada MBG kisaran harga Rp24.000 sampai Rp25.000 per kilogram. Semenjak ada MBG harga bisa mencapai Rp27.000 sampai Rp28.000 per kilogram,” ujarnya.
Sebagai pemasok tetap SPPG Kademangan 1, Samsul menyesuaikan jumlah pengiriman berdasarkan kebutuhan dapur. Pada pekan lalu, ia mengaku memasok sekitar 320 kilogram telur untuk mendukung penyediaan menu bergizi bagi para penerima manfaat program.
Peternakan miliknya saat ini memiliki sekitar 15.000 ekor ayam petelur dengan tujuh orang tenaga kerja. Usaha tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana program MBG mampu menggerakkan sektor ekonomi lokal melalui pelibatan pelaku usaha di daerah.
“Alhamdulillah saat ini saya memiliki sekitar 15 ribu ekor ayam petelur dan ada tujuh pekerja yang membantu operasional kandang. Dengan adanya permintaan dari SPPG Kademangan 1, usaha kami menjadi lebih terbantu,” ungkapnya.
Samsul juga memastikan kualitas telur yang dipasok telah memenuhi standar yang ditetapkan. Telur hasil peternakannya telah menjalani uji laboratorium oleh Dinas Peternakan dan kandang yang dikelolanya telah mengantongi Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
“Alhamdulillah telur yang kami kirim sudah diuji laboratorium oleh Dinas Peternakan dan kandang kami juga sudah memiliki NKV. Kami berupaya menjaga kualitas agar telur yang diterima anak-anak penerima manfaat tetap aman dan berkualitas,” katanya.
Menurut Samsul, dampak keberadaan SPPG Kademangan 1 tidak hanya dirasakan peternak telur, tetapi juga memberikan efek ekonomi berantai bagi masyarakat sekitar. Mulai dari tenaga kerja kandang, pemasok pakan, hingga pelaku usaha pendukung lainnya ikut merasakan manfaat meningkatnya aktivitas ekonomi yang tercipta dari program MBG.
" Saya berharap stabilitas harga pakan, terutama jagung, dapat terus terjaga karena menjadi tantangan utama yang masih dihadapi peternak ayam petelur, " Pungkasnya. (Eko)
Tags:
Dampak Positif Ekonomi