Tak Sekadar Hafal Al-Qur’an, Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun Siapkan Santri Berkarakter
Mumbai
Ahmedabad
Probolinggo, (JaringanKita.Id) — Yayasan Tarbiyatul Islam (YTI) Walisongo menghadirkan Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun sebagai ruang pembinaan generasi Qur’ani yang tidak hanya berorientasi pada capaian hafalan, tetapi juga pada kekuatan karakter dan akhlak santri.
Lembaga tersebut hadir melalui kolaborasi dengan Rumah Tahfidz Center Koordinator Daerah (Korda) Jatim 2) dan telah memiliki legalitas dengan Nomor Induk Pendirian PL/MA/0364/26.
Kepala Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun, Imron Rosidi, menjelaskan bahwa tantangan pendidikan tahfidz bukan berhenti ketika santri berhasil menyelesaikan hafalan. Menurutnya, menjaga hafalan agar tetap kuat justru membutuhkan proses pembinaan yang panjang dan konsisten.
“Kami ingin membangun pembelajaran yang sistematis. Targetnya bukan hanya santri mampu menghafal, tetapi bagaimana hafalan tersebut benar-benar terjaga secara mutqin dan tercermin dalam akhlak mereka,” ujarnya.
Karena itu, pembelajaran di Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun diarahkan melalui pola yang terstruktur, termasuk proses hafalan, murojaah, evaluasi, serta pembiasaan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Imron menilai kualitas seorang hafiz tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya ayat yang mampu dihafalkan. Kemampuan mempertahankan hafalan dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman perilaku menjadi bagian penting dari proses tersebut.
“Hafalan harus dijaga. Kami berharap santri memiliki kedisiplinan untuk terus murojaah sehingga apa yang sudah dihafalkan tidak hanya selesai di lisan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan mereka,” katanya.
Sementara itu, Ketua YTI Walisongo, KH Ahmad Ubaidillah, mengatakan hadirnya Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun merupakan bagian dari ikhtiar yayasan dalam memperluas akses pendidikan keislaman bagi masyarakat.
“Penambahan Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun ke dalam keluarga besar YTI Walisongo adalah wujud komitmen kami untuk terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas,” ungkapnya.
Menurut KH Ahmad Ubaidillah, perkembangan zaman menghadirkan tantangan tersendiri bagi generasi muda. Karena itu, pendidikan Al-Qur’an perlu hadir bukan hanya sebagai proses transfer pengetahuan agama, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan karakter.
Ia berharap Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun mampu menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an sekaligus mampu beradaptasi dengan kehidupan sosial di tengah masyarakat.
“Kami berharap keberadaan lembaga ini dapat memperkokoh benteng moral generasi muda dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar,” tuturnya.
Kerja sama dengan Rumah Tahfidz Center Korda Jatim 2 menjadi salah satu upaya memperkuat kualitas pengelolaan lembaga. Standar pembelajaran yang lebih sistematis diharapkan dapat menciptakan proses pembinaan yang terukur dan berkelanjutan.
Dengan legalitas yang telah dimiliki, Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun kini memiliki landasan kelembagaan untuk mengembangkan program pembinaan santri.
Bagi YTI Walisongo, ukuran keberhasilan rumah tahfidz tidak berhenti pada jumlah santri yang mampu menyandang predikat hafiz. Lebih jauh, keberhasilannya akan terlihat ketika hafalan Al-Qur’an mampu melahirkan akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemanfaatan sosial.
Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun pun diproyeksikan menjadi bagian dari upaya tersebut: mencetak generasi yang bukan hanya mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu menjaga dan menghidupkan pesan-pesannya dalam kehidupan.
Tags:
Pendidikan