ZoyaPatel

Dari Bondowoso ke Malaysia, Kopi Tujuh Bidadari Mulai Diuji untuk Produk Bakery

Mumbai
Nasional, (JaringanKita.Id)— Kopi Tujuh Bidadari asal Bondowoso, Jawa Timur, mulai memasuki tahap penjajakan untuk dikembangkan sebagai bahan dalam produk bakery di Malaysia. Penjajakan tersebut mempertemukan pemilik Kopi Tujuh Bidadari, Dr. Suheri, M.Pd.I., dengan Genba Bakery di lingkungan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan karakter kopi Bondowoso sekaligus mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatannya di luar produk minuman. Salah satu bentuk yang dijajaki adalah penggunaan ekstrak kopi sebagai perisa alami untuk roti dan pastri.

Dr. Suheri, yang juga dikenal sebagai akademisi sekaligus wirausahawan asal Jawa Timur, membawa sampel biji Kopi Tujuh Bidadari dalam kunjungannya ke USIM. Sampel tersebut kemudian menjadi bagian dari proses awal pengujian dan formulasi di Genba Bakery.

“Kopi tidak hanya dapat dinikmati sebagai minuman. Karakter rasa dan aromanya memungkinkan kopi dikembangkan menjadi bagian dari berbagai produk kuliner,” ujar Dr. Suheri.

Menurutnya, pengembangan tersebut merupakan upaya mencari bentuk baru dalam memperkenalkan kopi Bondowoso. Karakter khas kopi diharapkan dapat tetap hadir meskipun dikembangkan melalui produk kuliner yang berbeda.

“Kami ingin melihat sejauh mana Kopi Tujuh Bidadari dapat dikembangkan menjadi bagian dari produk kuliner, sehingga cita rasa kopi Bondowoso dapat dikenal melalui bentuk produk yang berbeda,” katanya.

Dalam proses awal tersebut, tim Genba Bakery melihat kemungkinan penggunaan ekstrak kopi sebagai salah satu komponen dalam formulasi produk. Pengujian dilakukan untuk menemukan komposisi yang sesuai antara karakter kopi dengan produk bakery yang dikembangkan.

Tahap ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan Kopi Tujuh Bidadari ke produk bakery masih berada dalam proses penjajakan. Hasil pengujian dan formulasi nantinya menjadi penentu terhadap kesesuaian kopi tersebut untuk digunakan dalam produk roti dan pastri.

Di balik proses formulasi tersebut, terdapat kepentingan yang lebih luas berkaitan dengan rantai nilai kopi Bondowoso. Diversifikasi pemanfaatan kopi berpotensi membuka ruang permintaan baru apabila produk hasil pengembangan nantinya dapat diterima pasar.

Dr. Suheri menekankan bahwa pengembangan produk lokal semestinya tidak hanya berorientasi pada produk akhir. Rantai produksi, termasuk keberadaan petani sebagai penghasil komoditas, juga perlu mendapatkan perhatian.

“Ketika sebuah produk lokal memiliki pasar yang lebih luas, yang diharapkan bukan hanya pertumbuhan produknya, tetapi juga adanya dampak terhadap para petani yang menjadi bagian dari rantai produksinya,” tuturnya.

Kolaborasi penjajakan tersebut mempertemukan potensi komoditas pertanian Bondowoso dengan lingkungan akademik, riset pangan dan kewirausahaan di Malaysia. Pertemuan itu sekaligus membuka ruang eksplorasi terhadap kemungkinan pengembangan produk lokal melalui pendekatan inovasi.

Kopi Tujuh Bidadari yang selama ini dikembangkan sebagai produk minuman mulai dijajaki untuk memiliki fungsi lain dalam industri pangan. Pendekatan tersebut memperluas kemungkinan pemanfaatan kopi sekaligus memperkenalkan karakter kopi Bondowoso dalam bentuk yang berbeda.

Untuk saat ini, proses masih berlanjut pada tahap pengujian sampel dan formulasi di Genba Bakery. Belum ada hasil akhir mengenai produk bakery yang akan dikembangkan, karena kesesuaiannya masih harus dilihat melalui proses pengujian.

Penjajakan di Malaysia tersebut menjadi bagian dari langkah memperluas ruang pengembangan Kopi Tujuh Bidadari. Dari Bondowoso, kopi tidak hanya dibawa sebagai komoditas minuman, tetapi mulai diperkenalkan sebagai potensi bahan dalam inovasi pangan melalui jejaring akademik dan usaha di tingkat internasional. (Rif)
Ahmedabad