ZoyaPatel

Presma At-Taqwa Tegaskan Kampus Pergerakan: Mahasiswa Harus Berani Bersuarakan Keadilan

Mumbai
Bondowoso, (JaringanKita.Id) – Presiden Mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso, Fionaldo Alfindani, menegaskan bahwa identitas kampus sebagai kampus pergerakan harus diwujudkan melalui keberanian mahasiswa untuk berpikir, bersuara, dan mengambil bagian dalam persoalan masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MB) Universitas At-Taqwa Bondowoso 2026 yang berlangsung 4–6 September 2026.

Fionaldo yang juga merupakan kader PMII Rayon Rabi'ah Al-Adawiyah Komisariat RBA Universitas At-Taqwa Bondowoso mengatakan bahwa menjadi mahasiswa tidak cukup hanya dengan mengejar nilai dan gelar akademik. Menurutnya, mahasiswa harus memiliki kesadaran sosial dan keberanian untuk mengambil posisi ketika melihat ketidakadilan.

“Menjadi mahasiswa bukan hanya rajin kuliah, tapi juga berani bersuara, berani menegakkan keadilan, ikut andil dalam setiap isu kemasyarakatan, harus sakit hati ketika melihat ketimpangan,” tegas Fionaldo.

Ia menyebut mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menutup mata terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Menurutnya, pendidikan tinggi harus melahirkan manusia yang mampu menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Harus selalu siap sedia menyambung lidah rakyat, berpihak kepada masyarakat yang tertindas. Kampus At-Taqwa ini kampus pergerakan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus mempertegas posisi organisasi ekstra kampus dalam proses pembentukan mahasiswa. Terlebih, Rektor Universitas At-Taqwa Bondowoso, Dr. Agus Fawaid, M.Pd.I, dalam rangkaian PK2MB juga secara terbuka mendorong mahasiswa untuk mengikuti organisasi intra maupun ekstra.

Agus Fawaid menilai organisasi merupakan bagian penting dari proses mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan diri.

“Proses ketika Anda ada di kampus ini, pertama, ikuti perkuliahan dengan baik dan benar. Yang kedua, Anda perlu di situ membangun kemampuan diri melalui bergabung dengan kegiatan-kegiatan organisasi, baik itu intra ataupun ekstra,” ungkapnya.

Ketika membahas organisasi ekstra, Agus Fawaid secara terbuka menyebut PMII.

“Yang diridai di Universitas At-Taqwa Bondowoso, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Ini adalah bagian-bagian dari proses,” katanya.

Bahkan melalui video yang beredar pada 6 September 2026, Agus Fawaid menyampaikan ajakan secara langsung kepada mahasiswa baru untuk bergabung dengan PMII.

“Saya selaku Rektor Universitas At-Taqwa Bondowoso mengajak kepada seluruh mahasiswa baru Universitas At-Taqwa Bondowoso untuk bergabung bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Jika kalian ingin hebat, ingin sukses, ingin keren, bergabunglah bersama PMII. Insya Allah PMII akan mengantarkanmu sehebat mimpimu. Salam pergerakan,” ucapnya.

Ajakan tersebut memiliki latar belakang pengalaman pribadi Agus Fawaid. Ia mengakui dirinya merupakan kader PMII dan pernah berproses di PMII Komisariat At-Taqwa ketika institusi tersebut masih bernama STAI At-Taqwa.

Sementara bagi Fionaldo, proses organisasi harus menjadi ruang untuk mengembangkan keberanian sekaligus memperluas pengalaman mahasiswa. Ia menilai mahasiswa perlu keluar dari pola belajar yang hanya berorientasi pada ruang kelas.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Agus Fawaid yang mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menjadi mahasiswa yang hanya datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, lalu pulang.

“Jangan Anda kemudian menjadi mahasiswa kupu-kupu, datang kampus pulang selesai. Tidak demikian. Tapi asah kemampuan Anda melalui organisasi intra ataupun ekstra,” tegas Agus.

Namun, aktivitas organisasi tetap harus ditempatkan secara proporsional. Agus Fawaid mengingatkan mahasiswa agar tidak mengorbankan perkuliahan demi kepentingan organisasi.

Bagi Fionaldo, keseimbangan antara intelektualitas dan gerakan menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa. Organisasi bukan alasan untuk meninggalkan akademik, tetapi menjadi ruang untuk menguji pengetahuan melalui realitas sosial.

Ia juga menekankan bahwa mahasiswa harus berani memiliki cita-cita besar dan tidak takut berbeda dalam gagasan.

Menurutnya, memasuki Universitas At-Taqwa Bondowoso bukan sekadar berpindah dari bangku sekolah ke bangku perguruan tinggi. Mahasiswa sedang memasuki proses pembentukan jati diri, moral, intelektualitas, profesionalisme dan kepemimpinan.

“Sekali bendera dikibarkan pantang untuk diturunkan, hentikan ratapan dan tangisan. Mundur satu langkah adalah bentuk suatu pengkhianatan,” tegas Fionaldo.

Di sisi lain, Agus Fawaid mengingatkan bahwa mahasiswa juga membawa nama almamater ketika berada di tengah masyarakat maupun ruang digital. Karena itu, keberanian bersuara harus disertai tanggung jawab.

“Anda ini adalah cerminan Universitas At-Taqwa Bondowoso di masyarakat, jaga nama baik almamater. Alma mater perlu kita jaga, bukan hanya di dunia nyata, tapi dunia maya juga perlu kita jaga,” pesannya.

Rangkaian PK2MB 2026 akhirnya tidak hanya menjadi momentum pengenalan kehidupan akademik bagi mahasiswa baru. Di dalamnya juga muncul penegasan mengenai pentingnya organisasi, pengabdian, keberanian bersuara, kepedulian terhadap persoalan masyarakat, serta pembentukan karakter kepemimpinan.

Dengan pernyataan rektor yang secara terbuka menyebut PMII sebagai bagian dari proses organisasi ekstra dan penegasan Presiden Mahasiswa mengenai identitas At-Taqwa sebagai kampus pergerakan, mahasiswa baru mendapatkan pesan bahwa kehidupan kampus tidak berhenti pada aktivitas akademik.

Menjadi mahasiswa At-Taqwa berarti belajar di ruang kelas, menempa diri dalam organisasi, berani membaca realitas, dan mengambil peran ketika masyarakat membutuhkan suara mahasiswa.
Ahmedabad