Rp3,36 Miliar untuk Beasiswa Manajemen Dakwah, YDSF Siapkan Generasi Baru Penggerak Umat
Mumbai
Ahmedabad
Jakarta, (JaringanKita.Id) — Upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang dakwah mendapat perhatian serius dari Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF). Bersama STIDKI Ar-Rahmah dan Yayasan Telaga Insan Beriman, YDSF membangun program beasiswa S1 Manajemen Dakwah dengan nilai kolaborasi mencapai Rp3,36 miliar.
Komitmen tersebut disampaikan dalam rangkaian peresmian kantor baru YDSF Cabang Jakarta yang berlangsung di Jl. Kebagusan Raya RT04/RW04, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2026).
Program beasiswa tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pemanfaatan dana sosial untuk sektor pendidikan. Sasaran utamanya bukan hanya membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi juga mempersiapkan generasi yang nantinya dapat mengambil peran dalam kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.
Ketua Pengurus YDSF, Ir. Shakib Abdullah, mengatakan dukungan terhadap program tersebut akan diberikan secara bertahap selama lima tahun. Skema tersebut disusun agar keberlangsungan pendidikan mahasiswa dapat terjamin hingga program berjalan secara penuh.
Pada tahun pertama, sebanyak 20 mahasiswa akan mendapatkan dukungan. Jumlah tersebut direncanakan meningkat menjadi 30 mahasiswa pada tahun berikutnya hingga seluruh mahasiswa yang berjumlah 40 orang memperoleh manfaat program.
“Pada periode ini, YDSF akan mendukung keberlangsungan program selama lima tahun ke depan. Dari tahun pertama 20 mahasiswa, tahun berikutnya 30 mahasiswa, hingga seluruh mahasiswa yang berjumlah 40 orang,” ungkap Shakib.
Menurutnya, pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kualitas dakwah. Karena itu, dukungan terhadap mahasiswa Manajemen Dakwah diharapkan tidak berhenti pada persoalan biaya pendidikan, tetapi dapat menghasilkan lulusan yang mampu mengabdikan ilmunya di tengah masyarakat.
Salah satu orientasi yang diharapkan adalah munculnya lulusan yang dapat berkontribusi dalam kehidupan masjid dan lingkungan sosial. Mereka diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan, tetapi juga mempunyai kemampuan mengelola kegiatan dakwah secara profesional.
“Harapannya semua bisa merasakan manfaatnya dan dakwah umat menjadi semakin baik dimulai dari imam masjid lulusan program ini,” lanjutnya.
Model kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dapat menjadi salah satu bentuk pemberdayaan umat yang memiliki efek jangka panjang. Ketika seseorang mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan, manfaatnya berpotensi diteruskan kepada keluarga, komunitas, dan masyarakat tempat ia mengabdi.
Di sisi lain, kerja sama antara lembaga filantropi, perguruan tinggi, dan yayasan menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak harus diselesaikan oleh satu pihak. Sinergi berbagai lembaga justru dapat memperbesar ruang manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Dalam momentum yang sama, YDSF juga meresmikan kantor baru Cabang Jakarta sebagai alamat baru operasional lembaga di wilayah tersebut. Kehadiran kantor baru diharapkan semakin mendekatkan layanan YDSF dengan donatur dan masyarakat.
Kantor tersebut juga diharapkan menjadi ruang untuk memperluas komunikasi dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak dalam program sosial, pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi YDSF, penguatan jaringan pelayanan memiliki arti penting dalam memperluas manfaat zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dana yang dihimpun dari masyarakat diharapkan dapat kembali kepada masyarakat dalam berbagai bentuk program yang berkelanjutan.
Peresmian kantor dan program beasiswa tersebut berlangsung bertepatan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriyah. Semangat menghadirkan kemanfaatan bagi sesama menjadi salah satu nilai yang relevan dengan agenda tersebut.
Jika kantor baru menjadi pintu pelayanan, maka program beasiswa menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi dapat menghasilkan manfaat yang lebih panjang.
Melalui investasi pendidikan senilai Rp3,36 miliar, YDSF bersama mitranya tidak hanya berbicara mengenai bantuan hari ini. Ada harapan untuk melahirkan generasi yang kelak mampu berdiri sendiri, mengabdi, dan kembali memberikan manfaat kepada masyarakat.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar. Ia adalah proses menyiapkan manusia agar memiliki ilmu, kemampuan, dan tanggung jawab untuk memberi manfaat.
Dan dari program tersebut, YDSF berharap lahir lebih banyak generasi yang mampu menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian serta dakwah sebagai bagian dari pelayanan kepada umat. (Rif)