ZoyaPatel

Penguatan SDM Jadi Kunci, Perhutani Dorong Produktivitas Getah Pinus Berbasis Kelestarian

Mumbai
Foto: Pemaparan tentang produktivitas getah pinus

Bondowoso/JaringanKita. Perum Perhutani KPH Bondowoso menitikberatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai strategi utama dalam menjaga dan meningkatkan produktivitas getah pinus secara berkelanjutan. Upaya ini dilakukan melalui pembinaan teknis yang melibatkan seluruh jajaran operasional hingga petani sadap di lapangan.

Kegiatan pembinaan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Timur dan diikuti oleh Asisten Perhutani (Asper), Kepala Resor Pemangkuan Hutan (KRPH), mandor produksi, Kelompok Tani Sadap (KTS), hingga para petani sadap di wilayah kerja KPH Bondowoso.

Tidak sekadar berorientasi pada peningkatan produksi, pembinaan ini juga diarahkan untuk memperkuat pemahaman pelaku lapangan terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Pendekatan yang digunakan memadukan aspek teknis dengan prinsip pengelolaan hutan lestari.

Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menegaskan bahwa getah pinus merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Menurut dia, peningkatan produktivitas tidak bisa dilepaskan dari kualitas SDM, khususnya dalam memahami teknik penyadapan yang sesuai dengan kondisi tanaman dan lingkungan.

“Penerapan teknik sadap yang sesuai standar operasional prosedur dan kaidah silvikultur menjadi kunci dalam menjaga produktivitas tegakan secara berkelanjutan,” katanya, Selasa (14/04/2026). 

Ia menambahkan, pemahaman terkait intensitas luka sadap, kedalaman koakan, hingga interval penyadapan harus benar-benar dikuasai agar tidak merusak pertumbuhan pohon dalam jangka panjang.

Sementara itu, Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Timur, Wawan Triwibowo, menekankan pentingnya strategi peningkatan produksi yang tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga memperhatikan daya dukung lingkungan.

Menurut dia, optimalisasi produksi dapat dilakukan melalui pendekatan intensifikasi berbasis potensi tegakan, dengan tetap mempertimbangkan kondisi biofisik di setiap lokasi.

“Produktivitas getah pinus sangat dipengaruhi oleh kondisi tanaman dan lingkungan. Karena itu, pengelolaan harus dilakukan secara adaptif dan berbasis data lapangan,” kata Wawan.

Ia juga menekankan pentingnya monitoring dan evaluasi secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi.

Selain itu, penerapan prinsip perawatan kesehatan pohon dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas hasil getah pinus. Pengendalian luka sadap dan pencegahan gangguan penyakit menjadi perhatian utama dalam praktik di lapangan.

Di sisi lain, para petani sadap yang tergabung dalam Kelompok Tani Sadap (KTS) menyambut baik pembinaan yang diberikan. Mereka menilai kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dalam meningkatkan hasil kerja mereka.

Perwakilan KTS, Yoes Kadarusman, mengatakan bahwa materi yang disampaikan membantu petani dalam menerapkan teknik penyadapan yang lebih efektif dan tidak merusak pohon.

“Dengan pembinaan ini, kami jadi lebih paham bagaimana menyadap yang benar agar hasilnya optimal tapi pohon tetap terjaga,” ujarnya.

Melalui penguatan kapasitas SDM dan penerapan teknik yang tepat, Perhutani berharap produktivitas getah pinus dapat terus meningkat tanpa mengorbankan kelestarian hutan.

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen menjaga fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan, yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan bagi generasi mendatang.(*) 
Ahmedabad