Di Balik Sepiring Makan Bergizi Gratis: Empat Orang, 2.003 Ompreng, dan Perjuangan yang Tak Banyak Terlihat
BONDOWOSO, (JaringanKita) – Saat ribuan siswa menikmati makanan bergizi gratis di sekolah, ada perjuangan yang jarang terlihat publik.
Di bawah terik matahari dan dengan tenaga yang sangat terbatas, hanya empat petugas distribusi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Padasan, Yayasan Rohman Baitul Makmur, setiap hari harus memastikan 2.003 paket makanan tiba tepat waktu dan kembali ke dapur dalam kondisi aman.
Potret itu terlihat pada Jumat (19/6/2026) di halaman SMAN 1 Pujer, Kabupaten Bondowoso. Setelah siswa selesai makan, para petugas tampak sibuk mengangkat, menghitung, dan menyusun kembali ribuan ompreng stainless steel yang akan dibawa pulang untuk dicuci dan disterilisasi sebelum digunakan kembali keesokan harinya.
Meski menjadi bagian penting dalam rantai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pekerjaan mereka kerap luput dari perhatian. Bahkan, tak sedikit yang mengira petugas distribusi memperoleh penghasilan besar dengan beban kerja yang ringan.
Padahal kenyataannya jauh berbeda.
Setiap hari, empat personel distribusi harus memuat makanan dari dapur SPPG yang berada di Desa Padasan, Kecamatan Pujer, mengantarkannya ke sekolah-sekolah penerima manfaat, lalu kembali mengumpulkan dan mengangkut 2.003 ompreng untuk dibawa ke dapur.
Salah satu petugas distribusi, Febri Angga, mengaku pekerjaan tersebut menuntut kekuatan fisik, ketelitian, dan tanggung jawab yang tinggi.
"Banyak yang mengira kami mendapat honor besar. Padahal kami hanya berempat dan setiap hari harus menangani 2.003 ompreng. Kami bekerja bukan semata-mata karena materi, tetapi karena ingin memastikan makanan bergizi ini sampai kepada anak-anak tepat waktu dan dalam kondisi baik," ujar Febri di sela aktivitasnya.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya mengangkat ribuan wadah makanan setiap hari. Tim distribusi juga harus berpacu dengan waktu agar makanan tiba sebelum jam istirahat siswa, sekaligus memastikan seluruh ompreng kembali lengkap untuk menjalani proses pencucian dan sterilisasi.
Keterlambatan distribusi maupun kelalaian dalam penanganan wadah makanan dapat berdampak pada kualitas pelayanan yang diterima para siswa. Karena itu, seluruh proses harus dilakukan dengan cepat, rapi, dan penuh kehati-hatian.
Sejak pagi hari, tim distribusi telah bekerja mempersiapkan armada, memuat makanan, mengatur jalur pengiriman, hingga memastikan seluruh wadah kembali ke dapur pada sore hari. Rutinitas tersebut dilakukan berulang setiap hari demi menjaga keberlangsungan Program MBG.
Keberhasilan program pemenuhan gizi nasional di tingkat daerah ternyata tidak hanya bergantung pada dapur yang memasak makanan.
Di baliknya, ada para pekerja lapangan yang bekerja dalam sunyi, mengorbankan tenaga dan waktu agar ribuan siswa dapat menikmati makanan bergizi setiap hari.
Empat petugas distribusi SPPG Padasan mungkin tidak banyak dikenal publik. Namun, di tangan merekalah ribuan paket makanan bergerak dari dapur menuju meja makan para pelajar, menjadi bukti bahwa keberhasilan sebuah program besar sering kali ditopang oleh orang-orang yang bekerja tanpa sorotan.(Don/*)