Ayam, Lele hingga Daging Sapi, Ini Strategi SPPG Bondowoso Badean 2 Kelola Anggaran MBG
Mumbai
Foto: Ragam menu MBG dari SPPG Bondowoso Badean 2 yang mewah tapi tetap bergizi. (Dok. SPPG Bondowoso Badean 2)
Ahmedabad
Bondowoso, (JaringanKita.Id) – Menyajikan lauk ayam, filet lele, telur hingga daging sapi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran Rp10.000-Rp12.000 per ompreng bukan perkara mudah. Namun, SPPG Bondowoso Badean 2 mengaku memiliki strategi khusus agar menu tetap bergizi, bervariasi, dan sesuai batas anggaran.
Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, mengatakan pengelolaan anggaran dilakukan melalui perencanaan menu yang matang. Jenis lauk, sayuran, dan buah diatur sedemikian rupa agar kebutuhan gizi terpenuhi tanpa membebani biaya produksi.
"Pengaturan jenis lauk, sayur, dan buah sangat penting untuk memaksimalkan anggaran. Untuk porsi kecil anggaran bahan makanan sekitar Rp8.000, sedangkan porsi besar sekitar Rp10.000," ujarnya.
Ia menjelaskan, lauk protein hewani disajikan berdasarkan siklus menu. Ayam dan telur dihidangkan sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan, filet lele satu kali dalam dua pekan, sedangkan daging sapi sekitar satu kali setiap bulan.
Menurut Yulia, pemilihan bahan pangan juga mempertimbangkan kondisi pasar. Tim penyusun menu memanfaatkan bahan pangan yang sedang musim karena ketersediaannya melimpah sehingga harga lebih terjangkau.
"Kami membuat menu dengan bahan pangan yang sedang musim sehingga stoknya melimpah dan harganya lebih murah," katanya.
Dalam menentukan lauk utama, SPPG tetap mengacu pada kebutuhan gizi penerima manfaat. Namun, jika terdapat beberapa pilihan bahan dengan kandungan gizi yang setara, pihaknya akan memilih bahan yang lebih ekonomis agar anggaran tetap efisien.
Peran ahli gizi pun menjadi bagian penting dalam penyusunan siklus menu. Selain memastikan kecukupan gizi, ahli gizi menyusun variasi menu agar siswa tidak menerima hidangan yang sama secara berulang sehingga tidak mudah bosan.
Yulia menambahkan, penggunaan bahan pangan lokal turut menjadi salah satu kunci efisiensi. Sayuran yang digunakan setiap hari dibeli langsung dari petani di Bondowoso sehingga kualitasnya lebih segar sekaligus membantu menekan biaya pengadaan.
Ia menepis anggapan bahwa anggaran Rp10.000-Rp12.000 tidak cukup untuk menyediakan makanan bergizi.
"Anggaran tersebut cukup karena kami telah menyusun manajemen yang tepat dan tetap memprioritaskan kualitas gizi," tegasnya.
Untuk menjaga kualitas makanan, SPPG menerapkan standar resep yang sama pada setiap proses produksi. Sementara itu, seluruh bahan baku yang datang diperiksa terlebih dahulu di ruang penerimaan. Jika kualitas bahan tidak memenuhi standar, bahan langsung dikembalikan kepada pemasok.
Yulia mengakui tantangan terbesar berasal dari perubahan harga bahan pangan yang terjadi hampir setiap hari. Saat harga melonjak, tim dapur melakukan modifikasi resep maupun substitusi bahan dengan nilai gizi yang setara agar kualitas menu tetap terjaga.
Dari berbagai menu yang pernah disajikan, chicken katsu dan ayam crispy menjadi favorit para siswa karena mudah dimakan dan memiliki cita rasa yang sederhana.
Ia berharap masyarakat dapat memahami bahwa penyediaan MBG bukan sekadar memasak dan membagikan makanan, melainkan melalui proses panjang mulai dari penyusunan menu, pengadaan bahan, pemeriksaan mutu, hingga pengolahan sesuai standar gizi dan keamanan pangan.
"Kami berharap masyarakat bisa lebih memahami bahwa penyediaan MBG bukan sekadar makan, tetapi ada proses panjang di balik penyediaan makanan yang bergizi, aman, dan tetap efisien," pungkasnya. (dw)
Tags:
makan bergizi gratis